Santo Augustinus – Sermo 196A

Keluhuran Tuhan kita Yesus Kristus tidak kelihatan, kehinaanNya sudah tampak. Menurut keluhuran-Nya, Ia berada di luar waktu; menurut kelemahan-Nya, Ia bersedia takluk pada waktu. Adanya kehinaan berarti adanya kelemahan. Namun, kelemahan Allah adalah kekuatan bagi mereka yang hina. Dengan bersumber pada keluhuran-Nya, Ia menciptakan dunia; dengan bersumber pada tempat kehinaan-Nya, Ia mengalahkan dunia. Seandainya Kristus dahulu tidak berkenan menyandang kehinaan, maka pada hari ini tak bakal ada seorang umat pun yang ditandai dengan tanda Kristus. Saudara telah mendengar apa yang dikatakan Rasul Paulus mengenai Dia: meskipun Ia Allah sejati, Ia tidak usah menganggap kesetaraanNya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebab, bagaimana mungkin Ia harus mempertahankan apa yang telah Ia miliki menurut kodrat-Nya? Sebaliknya, apa yang diIakukan-Nya? Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Itulah yang kita rayakan hari ini. Banyak orang telah menganggap remeh Kristus yang hina itu dan tidak menembus sampai ke kebesaran Kristus. Akan tetapi, mereka yang menyembah Dia yang hina telah menemukan Dia yang mulia.
Pada hari kedelapan Tuhan disunatkan, menurut kebiasaan yang berlaku pada waktu itu, dan untuk-Nya dipersembahkan kurban seperti yang telah ditentukan oleh Musa. Orang Yahudi mendengar hal itu dan berkala: „Kristus termasuk kaum kami.” Tetapi aku balik bertanya: „Jika kalian mengakui-Nya, mengapa kalian membunuh-Nya?” Peristiwa penyunatan itu mempakan kejadian penting, umatku yang tercinta! Untuk menghapuskan sunat, Ia menerima penyunatan. Ia menerima bayangan untuk membawa terang. Ia menerima lambang untuk menggenapi kebenaran. Sebab, justru pranata sunat yang menentukan bahwa setiap anak laki-laki hams disunat pada hari kedelapan, merupakan tanda kebangkitan Kristus. Saudara bertanya kepadaku: „Bagaimana hati kita disunat oleh kebangkitan Kristus?” Penyunatan-Nya melambangkan dalam tubuh apa yang akan terjadi dalam hati kita. Bukankah Rasul Paulus berkala mengenai Kristus Tuhan kita: „Ia telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita”? Penyunatan adalah pembenaran. Apa makna penyunatan? Menanggalkan keinginan-keinginan daging, memutuskan hubungan dengan dunia, melayani Allah, dan mengandung kebenaran di dalam kalbu. Sebab, tambahan apa yang diperoleh manusia dari pengambilan sepotong kulit dan dagingnya? Hal itu sekadar tanda. Olehnya ditandai di mana kebenaran, yaitu di dalam Kristus. Bagainiana „di dalam Kristus”? Sudah kukatakan. Karena pembenaranNya, kita dibenarkan. Artinya, oleh pembenaran-Nya, hati kita disunat.

Sekarang, pikirkan lagi hari kedelapan Tuhan. Pada hari keenam, malam hari Sabat, Kristus wafat. Pada hari ketujuh Ia dikubur. Hari berikutnya Ia bangkit. Maka jelaslah Ia bangkit sesudah hari Sabat, pada hari pertama minggu itu. Nah, jika seorang Yahudi mendengar Kristus telah disunat, hendaklah ia datang untuk disunat oleh Kristus. Akan tetapi, orang Yahudi itu berkala kepadaku: „Aku tidak mau menyimpang dari hukumku. Kristus sendiri mau menerima penyunatan itu, bukan? Apakah kiranya Ia mencela apa yang telah ditetapkan oleh-Nya supaya kita taati? Mana mungkin Ia sendiri memberi hukum lain?” Jawabku: „Apakah kamu mengira bahwa Ia baru menjadi Kristus ketika Ia dilahirkan dan Maria? Tidak, Kristus sudah ada sebelum ibu-Nya, sebab untuk diri-Nya sendirilah Ia menciptakannya menjadi ibu. Ia sudah ada sebelum Abraham. Kita masih kurang jauh mundur ke belakang: Ia sudah ada sebelum Adam. Masih juga kurang jauh: Ia sudah ada sebelum langit dan bumi, sebab segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Apakah kamu sungguh menyangka bahwa ada yang memberikan hukum dengan perantaraan Musa, selain Dia yang dilahirkan tunggal oleh Bapa, Firman Allah?” Maka giliranku bertanya, umatku yang tercinta, kebesaran apa yang dilihat Simeon yang tua dalam anak kecil itu? Yang dilihat Simeon, dibopong sang ibu. Yang dipahaminya menguasai seluruh dunia.
Katakanlah: apa yang dilakukan Elisa ketika ia menghidupkan kembali putra dari wanita, induk semangnya? Perbuatannya itu bagaikan lambang, yang menggambarkan hukum Taurat. Fakta-faktanya bagaimana? Kepada Elisa diberitahukan: „Anak itu sudah mati.” Elisa memberikan tangkarnya kepada pelayannya dan berkata kepadanya: „Pergilah dan tamhlah tongkatku ini di atas anak itu.” Pelayan menerima tongkat Elisa dan meletakkannya di atas anak yang mati tadi. Yang mati tidak bangkit. Lalu Elisa sendiri yang datang, membaringkan diri di atas anak yang mati dan membangunkannya sampai hidup kembali. Perhatikanlah, Saudara-saudara, perhatikan benar-benar: tongkat yang diberikan kepada pelayan itu supaya ia pakai adalah hukum yang diberikan dengan perantaraan Musa. Tongkat itu diletakkan di atas yang mati, tetapi yang mati itu tidak bangun. Artinya: orang Yahudi dapat saja menerima hukum itu, tetapi mereka tidak sanggup hidup sesuai dengannya. Maka janganlah hendaknya mereka meremehkan kehinaan Kristus. Janganlah mereka menganggap-Nya remeh karena Ia telah dijadikan lemah. Lihatlah, ada keimanan, maka anak itu dikandung. Ia mengenakan daging, lalu lahir dari seorang perempuan. Ia dibungkus dalam lampin dan diletakkan di dalam patungan. Kamu tidak boleh menganggap remeh Kristus jika Ia berbuat semua itu. Ia membaringkan diri di atas orang yang mati. Mengapa engkau tertawa? Setelah engkau bertobat, apa yang sekarang kautertawakan akan menjadi sumber hidup bagimu. Kehinaan Kristus seolah-olah membaringkan diri di atas kita supaya kita hidup kembali. Berkat kehinaan-Nya sekarang kita sudah bangkit dalam iman dan pada suatu ketika kelak kita akan benar-benar bangkit dalam daging.
„Akan tetapi, kupegang apa yang diturunkan Allah kepada Musa,” kata si Yahudi. Nah, dengarkan sekarang apa yang dikatakan Allah dengan perantaraan Nabi Yeremia. Apa yang dikatakan Allah kepada Yeremia? „Sesungguhnya, akan datang waktunya,” firman TUHAN, „Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Yakub.”Lepaskan yang lama dan ambillah yang baru, lalu akan jelaslah engkau harus melepaskan sunat dan tanda-tanda jasmani lainnya berupa roti tidak beragi, hari Sabat, serta kurban. Dengarkan kata-kata yang menjanjikan perjanjian baru: „Lihat, akan datang waktunya,” demikian firman TUHAN, „Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan mereka, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku menuntun mereka keluar dari tanah Mesir,” ketika diberikan hukum yang memaksa, ketika rakyat dibimbing melalui gurun pasir. Perjanjian baru akan Kuberikan, lain dari yang pertama. Jadi, janganlah memakai pakaian lama yang menyalibkan Kristus. Leluhurmu telah menyalib-Nya, engkau membenci-Nya. Kamu telah menuntaskan kejahatan: leluhurmu dengan tangan mereka, kau dengan hatimu. Anggaplah salah sikap leluhurmu dan dengarkan apa yang telah dilakukan Tuhanmu.
Khotbah singkat ini mestinya sudah cukup bagi Saudara, sebab hari ini hari raya dan harinya pendek. Sebab hari-hari terjadinya kelahiran Kristus adalah yang paling pendek dalam setahun. Tetapi waktu-waktu ini hari-hari memang mulai memanjang. Jadi, biarkan Kristus tumbuh di dalam hati Saudara. Berlanjutlah dengan cara ini, dan berimanlah. Maka, Saudara pasti akan mencapai kehidupan abadi.

Santo Augustinus – Sermo 196

Hari Natal

1. Cahaya hari raya ini, hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, menerangi kita. Hari Natal, hari kelahiran Hari. Jadinya pada hari ini, sebab mulai hari sekarang ini hari-hari memanjang. Ada dua peristiwa kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus: yang ilahi dan yang manusiawi. Kedua-duanya ajaib, sebab yang satu terjadi tanpa perempuan untuk menjadi ibu-Nya, yang lain tanpa laki-laki untuk menjadi bapak-Nya. Apa lagi perkataan yang diucapkan nabi suci Yesaya? „Siapa dapat menjelaskan kelahiran-Nya?” Ucapan itu dapat saja mengacu ke tiap-tiap peristiwa itu. Siapa kiranya dapat menjelaskan dengan sewajarnya bahwa Allah melahirkan? Siapa dapat menjelaskan dengan sewajarnya peristiwa seorang perawan bersalin? Kelahiran ilahi terjadi tidak pada suatu hari, kelahiran oleh perawan pada hari tertentu. Kedua peristiwa itu tidak mungkin dinilai manusia dengan sepatutnya, tetapi membangkitkan takjub kita.

Sekarang perhatikanlah dahulu kelahiran tersebut pertama. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Milik siapa Firman itu? Milik Bapa. Apakah Firman itu? Firman itu Anak. Tidak pernah Bapa tanpa Anak. Meskipun begitu, Dia yang tidak pernah tanpa Anak, memperanakkan Anak itu. DiperanakkanNya, namun tidak dimulai-Nya. Biasanya tidak ada awal kalau tidak dimulai dengan awal. Meskipun begitu, ada Anak. Meskipun begitu, Ia diperanakkan.

Orang bakal bertanya: „Bagaimana mungkin Ia diperanakkan, sedangkan Ia tidak berawal? Jika Ia diperanakkan, Ia berawal; kalau Ia tidak berawal, bagaimana Ia lahir, jika ia tidak mempunyai awal?” Aku tidak tahu bagaimana. Saudara bertanya kepada seorang manusia bagaimana Allah diperanakkan? Aku direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan Saudara, tetapi aku mencari bantuan kepada nabi. Ia pun bertanya dalam batin: „Siapa dapat menjelaskan kelahiran-Nya?” Ikutilah aku ke kelahiran Kristus sebagai manusia. Di dalamnya Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Ikutilah aku ke kelahiran itu – kalau kita dapat memahami peristiwa itu atau mampu berbicara tentangnya. Sebab, siapa dapat memahami kata-kata Paulus ini: „Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”? Siapa dapat memahaminya? Siapa dapat membayangkannya tanpa mengurangi artinya? Siapa di antara Saudara berani memeriksanya dengan akal? Lidah siapa berani menyatakannya dengan kata? Pikiran siapa dapat mencakupnya? Untuk sementara kita membiarkannya; hal itu terlalu berat bagi kita. Namun, Ia menghendaki hal itu tidak terlalu berat bagi kita; maka Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan telah menjadi sama dengan manusia. Di mana? Di dalam anak dara Maria. Jadi, marilah kita berkatakata sedikit dengan bertolak dari kenyataan itu – kalau kita mampu. Seorang malaikat membawa berita, sang dara mendengarkan, percaya, dan mengandung. Iman dalam jiwanya, Kristus dalam kandungannya. Seorang perawan telah mengandung, ajaib benar! Yang lebih mengajaibkan: setelah bersalin, ia tetap perawan. Pendeknya, siapa dapat menjelaskan kelahiran itu?

2. Aku akan menyampaikan sesuatu kepada Saudara-saudara, umatku yang tercinta, sesuatu yang akan menyenangkan hatimu. Di dalam Gereja, anggota-anggota tubuh Kristus dapat menempuh tiga cara hidup: menikah, menjanda, dan perawan. Oleh karena semua cara hidup itu, semua ragam kesucian itu akan terwujud di dalam anggota tubuh Kristus, ketiga-tiganya merupakan kesaksian mengenai tokoh Kristus. Pertama, hidup menikah. Ketika anak dari Maria mengandung, Elisabet, istri Zakharia, sudah mengandung. Yang ia kandung ialah pencanang sang hakim. Maria yang suci mendatanginya dengan maksud menjenguk sanaknya itu. Anak Elisabet di dalam kandungan melonjak kegirangan. Anak melonjak, Elisabet bernubuat. Di sini Saudara melihat Kristus disaksikan oleh perkawinan yang murni.

Siapa yang mewakili hidup menjanda? Hana. Ketika tadi Injil dibacakan, Saudara mendengamya. Hana adalah seorang nabi yang suci, seorang janda umur delapan puluh empat tahun, yang selama tujuh tahun hidup bersama suaminya. Ia senantiasa tinggal di Bait Allah dan melayani-Nya dengan doa, baik siang maupun malam hari. Janda itu mengenal Kristus. Ia melihat si kecil, tetapi mengerti betapa Dia. Dia juga menjadi saksi Kristus. Dalam diri Hana Saudara melihat hidup menjanda. Dan dalam diri Maria Saudara melihat hidup perawan.

Hendaklah, dari ketiga ragam hidup itu, masing-masing memilih yang mana yang disukainya. Yang mau menempuh cara lain, di luarnya, memilih tidak bergabung dengan anggota tubuh Kristus. Perempuan yang bersuami tidak usah berkata: „Kami bukan kepunyaan Kristus.” Bukankah perempuan yang suci telah bersuami? Para perawan jangan bermegah. Mereka malahan dalam segala hal harus merendahkan diri, betapapun mulianya mereka. Jadi, semua contoh keselamatan telah dibentangkan di depan mata kita. Jangan ada yang memilih jalan lain. Tak seorang pun perlu meninggalkan istri. Namun, lebih baik hidup tidak beristri. Jika yang dicari contoh kesucian di dalam perkawinan, contoh itu Susana. Contoh kesucian dalam hidup menjanda: Hana. Contoh kesucian dalam keperawanan: Maria.

3. Tuhan Yesus hendak menjadi manusia demi kita. Hendaknya rahmat tidak kurang martabatnya: Hikmadah yang tergeletak di bumi. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Wahai, santapan dan roti bagi para malaikat. Kaulah yang memenuhi pikiran para malaikat, Kau yang menjadi pokok pembicaraan mereka dan tidak pernah mereka bosan. Kaulah sumber hidup mereka, dari-Mu mereka menimba hikmat, Kaulah sumber kebahagiaan mereka. Dan di manakah Kau demi aku? Di tempat yang sempit, dibungkus dalam lampin, di dalam patungan. Demi siapa? Dia yang mengendalikan bintang-bintang, sedang menetek. Dia yang memenuhi pikiran para malaikat dan bersabda di pangkuan Bapa, membungkam di pangkuan ibu-Nya. Akan tetapi, Ia akan berbicara, dan bila umur-Nya sudah cukup, Ia akan menggenapkan Kabar Baik bagi kita. Ia akan menderita demi kita, Ia akan mati demi kita, dan untuk menunjukkan apa ganjaran kita, Ia akan bangkit, di depan mata murid-murid-Nya Ia akan naik ke surga, dan Ia akan turun dari surga untuk mengadili. Ketahuilah, dengan berbaring di dalam patungan, Ia menjadi kecil, tetapi Ia tidak kehilangan diri-Nya. Ia menerima keadaan yang tidak dimiliki-Nya sebelumnya, namun tetap sebagaimana Dia sebelumnya. Lihat, inilah Putra, Kristus. Marilah kita tumbuh besar bersama-Nya.

4. Sudahlah cukup sekian, umatku yang tercinta. Tetapi, aku melihat Saudara sebanyak ini datang ke upacara. Maka, masih ada satu hal yang harus kukatakan. Tahun Baru sudah di ambang pintu. Saudara semua beragama Kristen. Kota ini syukurlah – kota Kristiani. Ada dua kelompok di sini, orang Kristen dan orang Yahudi. Jangan sampai terjadi sesuatu yang dibenci oleh Allah, jangan ada kecurangan dalam bermain umpamanya, dan jangan terdengar senda-gurau yang tak senonoh. Jangan menempatkan orang sebagai hakim di atas Saudara, sebab kalau begitu Saudara dapat jatuh di tangan hakim yang sesungguhnya. Dengarkan, Saudara orang Kristen, anggota tubuh Kristus. Sadarilah keadaan Saudara. Ingat dengan harga apa Saudara ditebus.

Maukah Saudara tahu apa yang Saudara lakukan? Katakataku akan kutujukan kepada mereka yang melakukannya. Sekiranya Saudara menolak hal-hal yang jelek ini, janganlah Saudara merasa tersinggung oleh kata-kataku. Yang kutegur ialah mereka yang tidak hanya melakukannya, tetapi melakukannya dengan senang hati. Inginkah Saudara mengetahui apa yang sedang Saudara lakukan dan betapa kami menderita karenanya? Apakah orang Yahudi juga melakukan nya? Hendaknya Saudara sedemikian malunya, hingga hal-hal tadi tidak sampai terjadi.

Pada hari kelahiran Yohanes Pembaptis, enam bulan yang lalu – itulah waktu yang terentang antara pencanang dan Sang Hakim – orang Kristen datang ke laut menurut kebiasaan orang kafir dan membaptiskan diri di sana. Aku tidak hadir, tetapi presbiter-presbiter kita, menurut yang kudengar, mengenakan hukuman gerejawi yang pantas kepada beberapa orang, karena mereka mengkhawatirkan disiplin orang Kristen. Orang bersungut-sungut dan ada yang berkata: „Apa susahnya kami diberi petunjuk? Seandainya kami diberi tahu lebih dulu, kami tidak bakal melakukannya. Seandainya para imam memberi peringatan lebih dulu, kami tidak melakukannya.” Nah, uskupmu memberi peringatan pada waktunya, aku menegur, aku mengatakannya lebih dulu, aku memberi pengarahan resmi. Dengarkan uskup bila ia memberi perintah, dengarkan uskup bila ia memberi teguran, dengarkan uskup bila ia meminta, dengarkan uskup bila ia mendesak. Aku mendesak demi Dia yang lahir pada hari ini, aku mendesak, aku mengharuskan: „Janganlah sampai ada yang melakukannya!”

Aku telah memenuhi kewajibanku. Lebih baik Saudara mendengar aku memberi peringatan daripada melihat aku sedih.

Santo Augustinus – Sermo 195

Keluarga Kudus

1. Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah sekaligus anak manusia, telah menciptakan dan menguduskan hari ini. Terlahir dari Bapa, tanpa ibu, telah diciptakan-Nya sedap hari. Terlahir dari seorang ibu, tanpa ayah, telah dikuduskan-Nya hari ini. Dalam kelahiran-Nya yang ilahi, Ia tidak kelihatan; karena kelahiran-Nya sebagai manusia Ia menjadi kelihatan. Kedua kelahiran itu merupakan keajaiban. Oleh karena itu, Nabi Yesaya telah meramalkan mengenai Dia: „Siapa dapat menjelaskan kelahiran-Nya?”

Sulit untuk memperkirakan kelahiran yang mana yang terutama diacu oleh Yesaya. Menurut kelahiran pertama. Ia tidak pernah tidak terlahir dan Ia abadi bersama-sama Sang Bapa; menurut yang kedua, Ia pada suatu saat dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah diciptakan-Nya sendiri. Mungkin Yesaya memang berbicara mengenai kelahiran yang pertama: Ia yang selamanya ada, dilahirkan selamanya. Sebab, siapa gerangan dapat menjelaskan yang ini: terang lahir dari terang, namun keduanya tetap merupakan satu terang? Atau yang ini: Allah lahir dari Allah, namun tidak bertambah banyak jumlahnya? Atau yang ini: dikatakan bahwa Ia telah lahir seakan-akan kelahiran itu peristiwa masa lampau – kendati dalam kelahiran itu waktu tidak berlalu, tidak mendahului, dan tidak pula hadir? Sebab, di dalamnya waktu tidak berlalu, sehingga kelahiran itu seolah menjadi peristiwa masa lampau; waktu tidak mendahului, sehingga kelahiran itu pernah merupakan peristiwa masa depan; waktu tidak pula hadir, seolah kelahiran itu masih terus berlangsung dan belum berakhir. Maka siapa gerangan dapat menjelaskan kelahiran ini? Tak seorang pun, sebab yang harus dijelaskan itu letaknya tetap di atas waktu, sedangkan kata-kata si penjelas berlalu bersama waktu. Tetapi juga kelahiran dari seorang anak dara: bahwa Ia dikandung dalam dagingnya tidak secara jasmani, bahwa kelahiran-Nya dari dagingnya memberinya kelimpahan makanan untuk sang bayi, namun tidak menghilangkan keperawanannya ketika ia melahirkan, siapa gerangan dapat menjelaskannya? Siapakah dapat menjelaskan salah satu di antara kedua kelahiran itu, ataupun kedua-duanya?

2. Tuhan Allah kita berada di sini. Di sinilah Penengah antara Allah dan umat manusia, seorang manusia yang menjadi Penyelamat kita. Terlahir dari Bapa, Ia juga menciptakan seorang ibu; tercipta dari seorang ibu, Ia juga memuliakan Bapa. Dia yang tunggal bagi Bapa-Nya tanpa kelahiran dari seorang perempuan, yang tunggal bagi ibu-Nya tanpa pelukan seorang laki-laki. Di sinilah Dia yang terelok di antara anak-anak manusia, anak Maria yang suci, pengantin Gereja yang suci yang Ia jadikan mirip ibu-Nya. Gereja telah dibuat-Nya bagi kita sebagai ibu, sementara untuk diri-Nya sendiri Gereja itu dipelihara-Nya sebagai perawan. Sebab Rasul Paulus berkata kepadanya: „Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Sesungguhnya, Paulus berkata tentang ibunda kita, Gereja: ia bukan hamba, melainkan perempuan merdeka; kendati la tinggal seorang diri, anaknya lebih banyak daripada anak perempuan yang bersuami. Maka, sama seperti Maria, begitu pula Gereja mempunyai kesudan yang langgeng dan kesuburan yang tak layu-layu. Sebab apa yang layak diterima oleh Maria di dalam tubuh, disimpan oleh Gereja di dalam roh. Bedanya: Maria melahirkan satu anak, sedangkan Gereja banyak anak yang oleh Kristus yang satu itu dikumpulkan menjadi satu tubuh.

3. Jadi, inilah hari Dia yang telah menciptakan dunia, masuk ke dalam dunia itu. Inilah hari Dia yang dari semula hadir dengan kekuatan-Nya, menjelma dalam daging sehingga berada di tengah-tengah kita. Sebab, Ia telah ada di dalam dunia dan datang kepada milik kepunyaan-Nya. Ia telah ada di dunia, namun tidak dikenal oleh dunia, oleh karena terang itu bercahaya di dalam kegelapan, tetapi kegelapan tidak menerima terang itu. Ia datang di dalam daging untuk menyucikan daging dari cacat. Ia datang dengan mengenakan tubuh dari tanah yang bagaikan obat, untuk menyembuhkan mata batin kita yang telah dibutakan oleh bumi di luar kita. Ia untuk menyembuhkan mata kita, supaya kita, yang dahulu adalah kegelapan, kini menjadi terang di dalam Tuhan. Semoga terang tidak lagi bercahaya ke dalam kegelapan, hadir bagi mereka yang tidak hadir, tetapi tampak jelas bagi mereka yang melihat dengan jelas.

Untuk itulah pengantin laki-laki melangkah ke luar dan kamar pengantin-Nya. Seperti raksasa Ia bangkit girang untuk melakukan perjalanannya. Berseri-seri seperti pengantin, sekuat raksasa, ramah sekaligus mengerikan, sungguh-sungguh sekaligus manis, lembut terhadap orang yang baik, garang terhadap yang jahat. Meskipun Ia tinggal di pangkuan Bapa, Ia mengisi kandungan ibu-Nya. Di kamar pengantin, yaitu kandungan ibu yang perawan, kodrat ilahi bergabung dengan kodrat manusiawi. Di situlah Firman menjelma menjadi daging bagi kita supaya, setelah keluar dari ibu, Ia tinggal di antara kita dan supaya, dengan mendahului kita ke rumah Bapa, Ia menyediakan tempat tinggal bagi kita. Maka, marilah kita bergembira dan merayakan hari ini dengan khidmat. Dan, marilah kita dalam iman mendambakan hari yang abadi, oleh Dia yang abadi tetapi telah lahir bagi kita di dalam waktu.

Santo Antonius

Santo Antonius Abas

Hidup dari tahun 250 dan meninggal tahun 356. Antonius seorang pemuda dari Mesir. Antonius seorang pemuda yang kaya raya, karena mendapatkan harta dari orang tuanya, yang meninggal pada saat Antonius berumur 20 tahun. Antonius membagi semua hartanya kepada oran-orang Miskin. kemudian ia hidup lebih dekat dengan Tuhan dengan bertapa, berdoa dan bermatiraga. Antonius bermaksdu mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha menjalin hubungan mesra dengan Allah melaului doa-doa, meditasi dan bertapa. Semua ini menjadikan Antonius kepada suatu tingkat hidup spritualitas rohani yang tinggi dan menjadikan dia seorang pendoa yang handal. Banyak sekali orang-orang pada waktu itu mendatanginya dengan berbagai macam permasalahan hidupnya. Kepada orang-orang tersebut Antonius senantiasa memberikan nasehatinya, dimana salah satu nasehatnya dan mendapat peneguhan iman: „kamu mengetahui pandangan-pandangan Setan yang menyesatkan. Kamu mengetahui kekuatan dan kelemahan setan, menghadapi semua itu, Percayakanlah kepercayaanmu kepada Yesus Kristus. Percayalah bahwa akhirnya kamu akan menang atas segala kejahatan” „Saya tidak takut kepadamu; engkatu(godaan) tidak akan memisahkan daku dari cinta kasih Yesus Kristus” demikianlah karene kebenaran menjadi semboyan akan godaan dinyatakan. Antonius tidak hanya memusatkan perhatian kepada kontemplasi dan meditasi saja, akan tetapi juga pada pembelaan iman Katolik. Antonius juga tercatat dua kali pergi ke Alexandria untuk menghibur dan meneguhkan saudara-saudara seiman yang mendapat tantangan dari kaum Arian yang sesat.

Santo Augustinus – Sermo 191

Perawan Maria

Kristus, Anak Tunggal Allah, matahari kebenaran yang sejati, menyinari bumi kendati cahaya-Nya tidak meninggalkan langit. Di sana Ia tinggal untuk selama-lamanya, di sini Ia berialu dalam waktu. Di sana Ia sendiri adalah hari abadi, di sini Ia mengalami hari, sama seperti manusia. Di sana Ia hidup selama-lamanya dan jam-jam tidak benalu, di sini Ia mati di dalam waktu sekalipun Ia tidak berbuat dosa. Di sana Hidup tinggal tak surut-surut, di sini Ia membebaskan hidup kita dari nasib kematian. Di sana Ia mengobarkan para malaikat dengan api kemuliaan-Nya, di sini Ia mencabut maut dari kehidupan manusia. Di sana dinikmati-Nya terang yang tak terpadamkan oleh pendosa mana pun, di sini Ia lahir sebagai manusia yang memisahkan segala hal dari dosa. Di sana Ia Allah bersama-sama Allah di sini Ia Allah dan manusia. Di sana Ia terang dari terang di sini Ia terang yang menerangi setiap orang. Di sana Ia membentangkan langit dengan Firman-Nya di sini Ia menunjukkan jalan yang menuju surga. Di sana Ia mengajuk rahasia kelahiran-Nya bersama Bapa, di sini telah dibentuk-Nya anggota-anggota tubuh-Nya di kandungan ibu-Nya. Di sana Ia duduk di sebelah kanan Bapa, di sini Ia berbaring di dalam patungan. Di sana Ia memberi santapan kepada para malaikat, di bumi ini Ia menderita lapar seperti anak kecil. Di sana, bagi kuasa-kuasa yang sempuma Ia tetap menjadi roti yang tiada habisnya, di sini Ia tidak dapat hidup tanpa diberi susu, sama seperti semua bayi yang baru lahir. Di sana Ia berbuat baik, di sini Ia menanggung yang jahat. Di sana Ia tak pernah mati, di sini Ia bangkit sesudah mati dan memberi kehidupan abadi kepada manusia yang hams mati. Allah telah menjadi manusia agar manusia menjadi Allah. Tuhan telah mengambil rupa seorang hamba, agar manusia beraling kepada Tuhan. Penghuni dan Pendiri surga telah menghuni bumi, agar manusia pindah dari bumi ke surga.

1. Firman Bapa, yang telah menjadikan zaman-zaman, telah menjadi manusia dan demi kita menetapkan hari kelahiranNya dalam waktu. Dalam kejadian-Nya sebagai manusia diinginkan-Nya satu hari bagi diri-Nya, padahal satu hari pun tak akan berlalu tanpa perintah ilahi-Nya. Sementara Ia tinggal bersama Bapa-Nya, Ia mendahului segala zaman, dan Ia pada hari ini keluar dari ibu-Nya untuk memasuki peredaran tahun. Ia menjadi manusia, Ia yang menjadikan manusia. Maka, Dia yang mengendalikan bintang-bintang menyusu pada buah dada ibu-Nya; Dia yang adalah roti kelapamn dan Dia yang adalah mata air kehausan; Dia yang mempakan terang menjadi temaram; Dia yang adalah jalan letih karena perjalanan; Dia yang adalah kebenaran kena tuduhan dengan saksi-saksi palsu; Dia yang akan menjadi hakim atas orang hidup dan orang mati dihukum oleh searang hakim fana; Dia yang adalah keadilan dinyatakan bersalah oleh orang-orang yang tidak adil. Pengajar didera dengan cemeti; buah anggur dimahkotai dengan duri-duri; fundamen digantungkan pada salib; kekuatan menjadi lemah; kesembuhan terlukai; bahkan hidup mengalami kematian. Dengan menanggung alih-alih kita, kehinaan-kehinaan ini dan yang serupa, yang tidak layak Ia tanggung, kita Ia bebaskan, sekalipun kita tidak layak dibebaskan. Sebab Dia yang telah menanggung segala keburukan itu demi kita tidak patut menerima keburukan apa-apa, sedangkan kita, yang melalui Dia menerima segala kebaikan, tidak patut menerima kebaikan apa-apa. [Akan tetapi, kehinaan-Nya menjadi kemuliaan kita dan salib-Nya adalah kemenangan kita; palang salib-Nya menjadi tanda kejayaan kita dan kematian-Nya adalah kehidupan kita.] Karena itulah, Dia yang sebelum segala abad menjadi Anak Bapa, yang hari-hari-Nya tidak berawal, pada hari-hari zaman akhir sudi menjadi anak manusia. Dia yang lahir dari Bapa dan tidak dijadikan oleh Bapa, terjadi di dalam seorang ibu yang telah dijadikan oleh-Nya, supaya di sini, pada saat tertentu, Ia terbit dari seorang perempuan itu yang sama sekali tidak mungkin ada, kapan pun dan di mana pun, kecuali oleh Dia.

2. Maka genaplah apa yang dinubuatkan dalam Mazmur: „Kebenaran akan tumbuh dari bumi.” Maria, perawan sebelum mengandung dan perawan setelah bersalin. Mustahil bumi itu, yakni daging tempat kebenaran terbit, kehilangan kemurniannya. Sebab sesudah kebangkitan-Nya, ketika Ia disangka hantu, bukan tubuh, Ia berkata: „Rabalah Aku dan lihadah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Meskipun begitu, tubuh-Nya yang padat seperti halnya tubuh seorang pemuda dapat mendatangi para murid melalui pintu-pintu yang tidak terbuka. Sudah tentu Dia yang dapat masuk melewati pintu tertutup ketika dewasa, dapat juga meninggalkan tubuh ibu-Nya tanpa merusaknya ketika masih bayi.
Orang yang tidak beriman tidak mau mempercayai baik perbuatan yang pertama maupun yang kedua. Akan tetapi, karena ketidakpercayaan menolak kedua-duanya, iman malah bertambah siap mempercayai keduanya. Sesungguhnya, inilah hakikat ketidakpercayaan: menolak kehadiran tabiat ilahi dalam diri Kristus. Lagipula, jika iman membenarkan kelahiran Allah di dalam daging, maka tidak pula ada keraguan padanya bahwa Allah mampu melakukan keduanya. Maka tubuh seorang dewasa dapat memperlihatkan diri kepada orang di dalam rumah sekalipun pintu rumah tetap terkunci, dan anak mampu muncul sebagai pengantin dari kamar pengantin, yaitu kandungan anak dara, tanpa merusak keperawanan ibu-Nya.

3. Sebab di sana Anak Tunggal Allah sudi bersatu dengan tabiat manusia. Itu dilakukan-Nya supaya tubuh Gereja yang tak bernoda digabungkan-Nya dengan diri-Nya selaku kepala yang tak bernoda. Rasul Paulus menamakan Gereja „perawan”, tidak hanya mengingat kaum wanita di dalam Gereja yang juga masih bertubuh perawan, tetapi juga karena keinginannya supaya jiwa semua anggotanya murni. Katanya: „Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. [Tetapi kadang kala aku takut, kalau-kalau kamu disesatkan, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular yang licik itu. Jangan pikiranmu disesatkan dari kesederhanaan dan kesucian yang ada dalam diri Kristus.”] Jadi, Gereja mirip ibu Tuhannya, oleh karena Gereja itu pun adalah baik ibu rohani maupun perawan, kendati hal itu mustahil menurut badan. Kristus sama sekali tidak menghilangkan keperawanan ibu-Nya, dan menjadikan Gereja-Nya perawan dengan membebaskannya dari perbuatan cabul setan-setan.
Hai perawan-perawan suci, dari keperawanan Gereja yang utuh itulah asalmu. Telah kamu tolak pernikahan di bumi dan telah kamu pilih tetap menjadi perawan juga dalam tubuh. Bersenang hatilah dan rayakan pada hari ini dengan pesta bahwa seorang perawan telah bersalin. Sebab Kristus telah lahir dari seorang perempuan, meski Ia tidak ditaburkan dalam perempuan itu oleh seorang laki-laki. Dia, yang telah memberi kepadamu keperawanan supaya kamu sayangi, tidak menghilangkan dari ibu-Nya apa yang kamu sayangi. Dia yang menyembuhkan dalam dirimu apa yang telah kamu ambil dari Hawa, sudah tentu tidak bakal merusak apa yang kamu junjung tinggi dalam diri Maria.

4. Oleh karena itu, kamu harus menapak jejaknya. Ketika Maria hamil, ia tidak bersuami, dan ketika ia bersalin, ia tetap perawan. Berupayalah mirip dia sedapat-dapatnya, bukan dengan melahirkan anak, karena hal itu tidak mungkin bila kamu hendak tetap perawan. Hanya dialah yang mampu kedua-duanya, tetapi kamu telah memilih salah satu dari keduanya, karena kamu akan kehilangan keperawanan jika memilih kedua-duanya. Yang mampu kedua-duanya hanya dia yang telah melahirkan Yang Mahakuasa, berkat Dia. Sebab hanya Dialah, Anak Tunggal Allah, patut menjadi anak manusia dengan cara yang luar biasa ini.
Akan tetapi, kalau Kristus menjadi anak satu orang perawan saja, hal itu tidak menghiangkan arti-Nya bagimu. Sebab, Dia yang tidak dapat kamu lahirkan sebagai anak dari tubuhmu, telah kamu temukan sebagai pengantin di dalam hati. Hendaklah kebahagianmu kamu anggap tergantung pada pengantin seperti itu, yang juga menjadi penyelamatmu, sedemikian rupa hingga keperawananmu tidak perlu mengkhawatirkan perampok. Sebab Dia yang tidak menghilangkan keperawanan ibu-Nya sekalipun tubuhnya bersalin, lebih-lebih lagi memelihara keperawanan di dalam dirimu bila merangkulmu dengan rangkulan rohani. Dan jangan sampai kamu memandang dirimu mandul karena tetap perawan. Sebab, keutuhan daging yang penuh kebaktian itu menghasilkan kesuburan rohani. Berbuadah sesuai dengan perkataan Rasul Paulus: „Jangan kalian ributkan perkara duniawi, bagaimana menyenangkan suamimu. Ingat perkara Tuhan, bagaimana Ia dapat berkenan kepadamu dalam segala hal.” Hendaklah terpikir olehmu bahwa, kalau tidak mungkin kamu beranak banyak karena kesuburan kandunganmu, kamu dapat berbudi banyak karena kesuburan rohmu.
Akhirnya, kata-kataku tertuju kepada seluruh umat. Kukatakan kepada Saudara sekalian: „Saudara-saudara adalah perawan suci yang am, yang oleh Rasul Paulus telah dinyatakań merupakan tunangan Kristus.” Kusapa kamu dengan kata „perawan”. Apa yang kamu kagumi dalam tubuh Mana, olahlah itu dalam lubuk jiwamu. Barang siapa percaya dengan hati agar dibenarkan, ia menerima Kristus, dan barang siapa mengaku dengan mulut agar diselamatkan, ia mengandung Kristus. Dengan demikian rohmu dapat melahirkan hasil beriimpahlimpah dan tetap bertahan dalam keperawanan.

Santo Feliks dari Nola

Santo Feliks

Feliks lahir di Nola, Italia Selatan. Hari kelahirannya tidak diketahui dengan pasti. Ia mengabdikan seluruh hidupnya dalam karya cinta kasih kepada orang – orang miskin yang ada di kotanya.
Riwayat hidupnya diketahui dari sebuah syair yang ditulis oleh Santo Paulinus, satu abad setelah kematian Feliks. Menurut Santo Paulinus, setelah kematian ayahnya, Feliks membagi – bagikan harta warisan ayahnya kepada orang – orang miskin, kemudian ia menjadi seorang imam. Karyanya sebagai seorang imam dimulainya bersama Santo Maximus, Uskup Nola. Ketika Uskup Nola ditangkap dan dianiaya oleh Kaisar Decius (249-251), Feliks tetap melayani umatnya. Namun kemudian ia juga ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi ia sempat meloloskan diri dari penjara.
Feliks tetap menyembunyikan diri sampai kematian kaisar Decius pada tahun 251. Ketika ia muncul kembali di depan umum, ia dikejar – kejar oleh orang – orang kafir di Nola. Dengan suatu campur tangan ajaib, ia sanggup menghindarkan diri dari para pengejarnya hingga masa penganiyaan berakhir.
Ketika Santo Maximus meninggal, Feliks terpilih menjadi penggantinya. Tetapi Feliks menolak penghormatan ini, sebagaimana dia juga tidak mau menerima kembali warisannya yang disita pada masa penganiyaan. Ia bahkan mengusahakan tiga bidang tanah sebagai petani, memberikan segala miliknya kepada para miskin diluar kebutuhan-kebutuhannya yang paling kecil. Santo Paulinus dan Santo Agustinus menceritakan sejumlah mukzijat dari Feliks yang terjadi di kediamannya di luar kota Nola.
Ia meninggal dunia kira – kira pada tahun 260 dan dihormati sebagai martir karena penderitaannya bagi Kristus dan demi keluhuran iman Kristen.

Santo Hilarius

Hilarius lahir di Gallia Selatan (sekarang: Perancis). Semenjak kecil, ia dididik dalam tata carea kekafiran yang tidak mengenal adat istiadat Kristen. Pada usis setengah baya, ia bertobat dan masuk ke pangkuan Gereja kudus bersama anak-isterinya, berkat kebiasaannya membaca buku-buku rohani dan Kitab Suci. Hilarius, seorang yang saleh, pandai dan bijaksana. Karena bakatnya ini, ia ditabhiskan menjadi imam, selanjutnya diangkat sebagai Uskup kota asalnya, Poiters. Pada masa kepemimpinannya, bidaah Arianisme semakin menghebat. Tugas para Uskup Ortodoks menjadi semakin berat. Meskipun demikian, Uskup Hilarius tetap menjadi pembela iman yang benar. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dihadapkan kepada Kaisar Konstansius. Ia dibuang ke Phrygia. Selama tiga tahun, ia hidup dipengasingan. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk menulis bukunya yang termasyur mengenai Tritunggal MahaKudus. Walaupun dibuang, namun ia tidak pernah membiarkan para Arian merajalela dengan ajarannya yang sesat itu. Sehabis masa pembuangannya itu, ia tidak diijinkan pulang ke tanah airnya di Galelia Selatan. Di tempat asalnya ini, Hilarius tetap mencurahkan tenaganya bagi tegaknya ajaran iman yang benar dan kemurnian Iman Kristen, sempai ia wafat pada tahun 368. Hilarius dihormati Gereja sebagai Pujangga Gereja.

Santo Augustinus – Sermo 189

Hari Natal (Lukas 2:1-7)

1. Hari yang telah menjadikan setiap hari, telah menguduskan hari ini bagi kita. Mengenai hari itu dinyanyikan dalam mazmur: „Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah Hari dari hari, yakni keselamatanNya.” Siapa lagi gerangan „Hari dari hari” itu kalau bukan Anak dari Bapa, terang dari terang? Namun, had yang lain itu, yang telah memperanakkan hari yang pada hari ini lahir dari anak dara, hari yang lain itu tidak mengenal terbit ataupun terbenam. Allah Bapa kunamakan „Hari”. Sebab, sekiranya juga Bapa bukan hari, Yesus pun bukan hari dari hari itu.

Apakah hari kalau bukan terang? Bukannya terang mata jasmani, bukannya terang yang sama bagi manusia dan hewan, melainkan terang yang bersinar bagi malaikat, terang yang memurnikan hati apabila kita memandangnya. Sebab, berlalulah malam yang menjadi alam kita, yang diterangi Kitab-kitab yang dinyalakan bagi kita bagaikan pelita, dan bakal datanglah yang dinyanyikan dalam mazmur lain: „Waktu pagi aku akan bersama-Mu dan akan memandang-Mu”.

2. Maka hari itu, Sabda Allah, hari yang bersinar bagi malaikat dan yang bercahaya di tanah air – jauhlah kita dari tanah air itu, kita yang berada di negeri orang – hari itu telah berselimutkan daging dan lahir dari anak dara Maria. Dengan cara yang ajaib Ia lahir! Apakah yang lebih ajaib daripada kelahiran dari perawan? Dia hamil, namun dia perawan. Dia melahirkan, namun dia perawan. Jadi, dari perempuan yang diciptakanNya, Ia tercipta. Kepadanya Ia berikan kesuburan sedangkan keperawanannya dibiarkan-Nya tetap utuh.

Dari mana asal Maria? Dari Adam. Dari mana asal Adam? Dari tanah.4 Jika Adam bemsal dari tanah dan Maria dari Adam, maka Maria pun berasal dari tanah. Dan jika Maria berasal dari tanah, maka kita dapat memahami kata-kata yang kita nyanyikan: „Maka kebenaran tumbuh dari bumi”. Dengan demikian, kebaikan apakah yang diberikan bumi kepada kita? „Kebenaran tumbuh dari bumi dan keadilan menjenguk dari langit”. Sebab orang Yahudi, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus: „… oleh karena tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, tidak mau takluk pada kebenaran Allah”.

Dari mana manusia dapat menjadi benar? Dari dirinya sendiri? Orang miskin yang mana memberi roti kepada dirinya sendiri? Orang telanjang yang mana dapat menutupi diri kalau tidak menerima pakaian? Dahulu kita tidak mempunyai kebenaran; di sini yang ada hanyalah dosa. Dari mana kebenaran? Apakah kebenaran tanpa iman? „Orang benar akan hidup oleh iman”. Barang siapa menamakan diri benar tanpa beriman, ia berdusta. Yang tidak beriman, terpaksa berdusta, bukan? Yang hendak berbicara benar, harus berpaling pada kebenaran. Akan tetapi, kebenaran jauh adanya. „Kebenaran tumbuh dari bumi.” Ketika Saudara-saudara sedang tidur, ia mendekati Saudara. Ketika Saudara tidur nyenyak, ia membangunkan Saudara. Kebenaran telah membuat dirinya Jalan supaya tak kehilangan Saudara. Oleh karena kebenaran tumbuh dari bumi, maka Tuhan kita Yesus Kristus lahir dari anak dara. Keadilan menjenguk dari langit supaya manusia memiliki keadilan yang bukan keadilannya sendiri, melainkan keadilan Allah.

3. Betapa besar keridaan itu dan betapa besar kehinaan yang mendahuluinya! Kehinaan apa yang mendahuluinya? Kita fana, kita tertekan oleh dosa, kita menanggung beban hukuman kita. Setiap manusia, mulai saat kelahirannya, menyandang sengsara. Tidak perlu kita memiliki kamnia nubuat agar mengetahuinya. Tengok saja dia pada saat kelahirannya dan lihat dia menangis. Jikalau Allah di bumi itu mengalami kehinaan yang amat sangat, maka timbullah pertanyaan: keridaan apa yang telah terjadi dengan tidak terduga-duga? Kebenaran akan tumbuh dari bumi, Kebenaran itu telah menciptakan segala-galanya dan diciptakan di tengah-tengah segalanya. Ia menjadikan had dan masuk ke dalam hari. Ia sudah ada sebelum segala zaman dan meniti zaman-zaman. Tuhan Kristus, tanpa awal bersama Tuhan untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, Saudara harus mencari arti hari yang sekarang ini. Hari ini hari kelahiran. Kelahiran siapa? Kelahiran Tuhan. Jadi, Ia mempunyai hari kelahiran? Benar. Apakah Dia yang pada mulanya adalah Firman, yang adalah Allah, dan yang bersama-sama dengan Allah, mempunyai hari kelahiran? Benar! Seandainya Ia tidak mengalami kelahiran dengan cara manusiawi, maka tidak mungkinlah kita sampai mengalami kelahiran kembali dengan cara ilahi. Ia telah lahir agar kita dilahirkan kembali. Kristus telah lahir, jangan ada orang yang meragukan kelahiran kembali bagi dirinya sendiri. Ia telah lahir dan tidak perlu dilahirkan kembali. Bukankah dilahirkan kembali itu hanya perlu bagi dia yang kelahirannya terkutuk? Maka, biarkan rahmat Kristus terwujud di dalam hati kita. Ibu-Nya mengandung Dia dalam pangkuannya, marilah kita mengandung-Nya di dalam hati kita. Anak dara dibuahi oleh penjelmaan Kristus menjadi daging, biarkan batin kita dibuahi oleh kepercayaan kepada Kristus. Anak dara telah menghasilkan Sang Penyelamat, kita harus menghasilkan pujian. Janganlah kita mandul, hendaklah jiwa kita mekar untuk Allah.

4. Kelahiran Kristus dari Bapa tanpa ibu, kelahiran Kristus dari seorang ibu tanpa bapak, kedua kelahiran itu ajaib. Yang pertama abadi, yang kedua dalam waktu. Kapan Ia lahir dari Bapa? Apa artinya: „kapan”? Apakah Saudara mencari kapan di sana, sedangkan di sana Saudara tidak bakal menemukan waktu? Janganlah Saudara mencari kapan di sana. Carilah „kapan” itu di sini. Jika Saudara mencari kapan kelahiranNya dari seorang ibu, Saudara berbuat baik. Sebaliknya, jika Saudara mencari kapan kelahiran-Nya dari Bapa, Saudara tidak berbuat baik. Ia telah lahir, namun tidak mengenal waktu. Ia lahir sebagai Yang Abadi dari Yang Abadi, Ia sama-sama abadi. Apa yang membuat Saudara heran? Ia adalah Allah. Amatilah keilahian-Nya, lalu penyebab rasa heran Saudara akan luruh. Meskipun begitu, Saudara heran bila kami berkata: „Ia lahir dari seorang perawan,” suatu peristiwa yang mengesankan. Ia adalah Allah, janganlah Saudara heran, hendaklah rasa heran Saudara berlalu dan diganti puji-pujian. Biarlah iman menjadi sokongan; percayalah bahwa terjadinya memang demikian. Jika Saudara tidak percaya, hal itu tetap terjadi, tetapi Saudara tetap orang yang tidak beriman.

Ia telah sudi menjadi manusia, apa lagi yang Saudara inginkan? Apakah Allah bagi Saudara belum cukup direndahkan? Ia, yang tadinya Allah, telah menjadi manusia. Tempat Ia ditampung, menyesakkan: dibungkus dalam lampin, Ia dibaringkan di dalam patungan. Saudara mendengarnya tadi waktu Injil dibacakan. Siapa tidak akan tercengang mendengarnya? Yang mengisi dunia, tidak mendapat tempat di rumah penginapan. Yang dibaringkan di dalam patungan, telah menjadi santapan kita. Hendaklah kedua hewan mendekati palungan, kedua bangsa, sebab „lembu mengenal pemiliknya”, „keledai mengenal patungan yang disediakan tuannya”. Pergilah ke patungan, dan jangan malu menjadi hewan beban untuk Tuhan. Saudara akan memikul Kristus, Saudara tidak akan sesat di jalan. Jalan itu mengendarai Saudara. Masih ingatkah Saudara keledai yang dibawa kepada Tuhan? Kitalah keledai itu, tak seorang pun perlu malu karenanya. Biarlah Tuhan mengendarai kita dan memanggil kita ke mana pun menurut kehendak-Nya. Kita hewan beban-Nya. Kita sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Selama Dia yang mengendarai kita, kita tidak merasa dibebani, tetapi diringankan. Selama Dia yang menjadi pandu, kita tidak sesat; kita berjalan menuju Dia, oleh Dia; di jalan itu kita tidak akan binasa.

Santo Aleksander

Santo Aleksander

Aleksander I adalah Paus kelima dan seorang martir abad kedua. Sebagai Paus, ALeksander I juga adalah Uskup Roma dari tahun 105-115. Menurut Buku KePausan (Liber Pontificalis), Aleksander I adalah warga kota Roma yang lahir dan mati pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus.
Ia menaruh perhatian besar pada Liturgi Gereja. Beberapa sumber mengatakan bahwa kata – kata Liturgi Ekaristi „Qui pride quam pateretur” („Yang sehari sebelum Ia menderita”) adalah kata – kata tambahan dari Aleksander I. Kata – kata ini membuka bagian dari perayaan Ekaristi, yang menceritakan perbuatan dan kata – kata Yesus sewaktu Ia mengadakan Ekaristi Kudus pada perjamuan terakhir. Beliau juga memerintahkan agar anggur yang dipakai dalam perayaan Ekaristi dicampur sedikit dengan air sebagai lambang darah dan air yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam tombak di atas Salib. Iapun menyesahkan praktek pemberkatan rumah dengan air suci.
Bersama dengan dua orang imam, yaitu Evenius dan Teodulus, Aleksander I dipenggal kepalanya pada tahun 115.

Gregorius dari Nazianze

Keluarga Gregorius adalah keluarga yang saleh dan diberkati Tuhan. Ibunya beserta kedua adiknya, Gorgonia dan Caesarius juga diakui oleh Gereja sebagai orang kudus.

Gregorius menjalani pendidikannya di Nazianze; kemudian berturut- turut ia belajar di Kaesarea-Kapadokia, Kaesarea-Palestina, Aleksandria dan akhirnya di Athena. Di Athena, ia bertemu dengan Basilius, teman kelasnya. Keduanya bersahabat. Bersama Basilius, Gregorius mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di Pontus. Namun, kemudian karena desakan ayahnya, Gregorius kembali ke daerah asalnya. Di sana ia kembali ke daerah asalnya. Di sana ia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian ditahbiskan menjadi uskup. Ketika berusia 50 tahun, Gregorius diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Di Konstantinopel ia menyaksikan keadaan hidup iman umat yang menyedihkan karena terpengaruh ajaran sesat Arianisme yang sudah menyebar luas. Tempat ibadat pun tidak ada.
Gregorius memulai karyanya sebagai Uskup Agung Konstantinopel dengan membangun sebuah gereja darurat. Gereja ini disebutnya ‚anastasis’ yang berarti ‚kebangkitan’. Ia menghadapi dengan tenang dan sabar kaum Arian yang menentangnya. Kepada umat, ia selalu berkala, „Kita harus menghadapi mereka (kaum Arian) dengan budi bahasa yang manis dan kesabaran yang tinggi agar bisa mengalahkan mereka.”

Ia banyak menulis dan mengajar di kota-kota yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, untuk membela ajaran iman yang benar. Pertentangan dengan kaum Arian terus meruncing, terlebih ketika semakin banyak umat kembali kepada ajaran iman yang benar karena pengaruh Gregorius. Kaum Arian berusaha membunuh dia dengan menyuruh seorang pemuda. Namun, usaha ini gagal. Pemuda tanggung ini seketika gagal. Pemuda tanggung ini seketika berubah tatkala berdiri di hadapan Gregorius yang saleh itu. Ia berlutut di depan Gregorius dan mengakui niat jahatnya.
Gregorius lebih suka hidup menyendiri dalam kesunyian pertapaan daripada hidup di tengah keramaian kota dengan segala masalahnya. Oleh karena itu, tidak berapa lama setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Nazianze untuk menggantikan ayahnya. Di sana ia mengajar dan banyak menulis buku pengajaran iman dan pembelaan agama. Semua tulisannya itu merupakan warisan berharga bagi Gereja. Dari tulisan-tulisannya, kita mengetahui bahwa Gregorius adalah seorang teolog dan filsuf yang arif.
Gregorius meninggal dunia pada tahun 390. Oleh Gereja, beliau digelari ‚kudus’ dan dihormati sebagai Pujangga Gereja