Santo Augustinus – Sermo 195

Keluarga Kudus

1. Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah sekaligus anak manusia, telah menciptakan dan menguduskan hari ini. Terlahir dari Bapa, tanpa ibu, telah diciptakan-Nya sedap hari. Terlahir dari seorang ibu, tanpa ayah, telah dikuduskan-Nya hari ini. Dalam kelahiran-Nya yang ilahi, Ia tidak kelihatan; karena kelahiran-Nya sebagai manusia Ia menjadi kelihatan. Kedua kelahiran itu merupakan keajaiban. Oleh karena itu, Nabi Yesaya telah meramalkan mengenai Dia: „Siapa dapat menjelaskan kelahiran-Nya?”

Sulit untuk memperkirakan kelahiran yang mana yang terutama diacu oleh Yesaya. Menurut kelahiran pertama. Ia tidak pernah tidak terlahir dan Ia abadi bersama-sama Sang Bapa; menurut yang kedua, Ia pada suatu saat dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah diciptakan-Nya sendiri. Mungkin Yesaya memang berbicara mengenai kelahiran yang pertama: Ia yang selamanya ada, dilahirkan selamanya. Sebab, siapa gerangan dapat menjelaskan yang ini: terang lahir dari terang, namun keduanya tetap merupakan satu terang? Atau yang ini: Allah lahir dari Allah, namun tidak bertambah banyak jumlahnya? Atau yang ini: dikatakan bahwa Ia telah lahir seakan-akan kelahiran itu peristiwa masa lampau – kendati dalam kelahiran itu waktu tidak berlalu, tidak mendahului, dan tidak pula hadir? Sebab, di dalamnya waktu tidak berlalu, sehingga kelahiran itu seolah menjadi peristiwa masa lampau; waktu tidak mendahului, sehingga kelahiran itu pernah merupakan peristiwa masa depan; waktu tidak pula hadir, seolah kelahiran itu masih terus berlangsung dan belum berakhir. Maka siapa gerangan dapat menjelaskan kelahiran ini? Tak seorang pun, sebab yang harus dijelaskan itu letaknya tetap di atas waktu, sedangkan kata-kata si penjelas berlalu bersama waktu. Tetapi juga kelahiran dari seorang anak dara: bahwa Ia dikandung dalam dagingnya tidak secara jasmani, bahwa kelahiran-Nya dari dagingnya memberinya kelimpahan makanan untuk sang bayi, namun tidak menghilangkan keperawanannya ketika ia melahirkan, siapa gerangan dapat menjelaskannya? Siapakah dapat menjelaskan salah satu di antara kedua kelahiran itu, ataupun kedua-duanya?

2. Tuhan Allah kita berada di sini. Di sinilah Penengah antara Allah dan umat manusia, seorang manusia yang menjadi Penyelamat kita. Terlahir dari Bapa, Ia juga menciptakan seorang ibu; tercipta dari seorang ibu, Ia juga memuliakan Bapa. Dia yang tunggal bagi Bapa-Nya tanpa kelahiran dari seorang perempuan, yang tunggal bagi ibu-Nya tanpa pelukan seorang laki-laki. Di sinilah Dia yang terelok di antara anak-anak manusia, anak Maria yang suci, pengantin Gereja yang suci yang Ia jadikan mirip ibu-Nya. Gereja telah dibuat-Nya bagi kita sebagai ibu, sementara untuk diri-Nya sendiri Gereja itu dipelihara-Nya sebagai perawan. Sebab Rasul Paulus berkata kepadanya: „Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Sesungguhnya, Paulus berkata tentang ibunda kita, Gereja: ia bukan hamba, melainkan perempuan merdeka; kendati la tinggal seorang diri, anaknya lebih banyak daripada anak perempuan yang bersuami. Maka, sama seperti Maria, begitu pula Gereja mempunyai kesudan yang langgeng dan kesuburan yang tak layu-layu. Sebab apa yang layak diterima oleh Maria di dalam tubuh, disimpan oleh Gereja di dalam roh. Bedanya: Maria melahirkan satu anak, sedangkan Gereja banyak anak yang oleh Kristus yang satu itu dikumpulkan menjadi satu tubuh.

3. Jadi, inilah hari Dia yang telah menciptakan dunia, masuk ke dalam dunia itu. Inilah hari Dia yang dari semula hadir dengan kekuatan-Nya, menjelma dalam daging sehingga berada di tengah-tengah kita. Sebab, Ia telah ada di dalam dunia dan datang kepada milik kepunyaan-Nya. Ia telah ada di dunia, namun tidak dikenal oleh dunia, oleh karena terang itu bercahaya di dalam kegelapan, tetapi kegelapan tidak menerima terang itu. Ia datang di dalam daging untuk menyucikan daging dari cacat. Ia datang dengan mengenakan tubuh dari tanah yang bagaikan obat, untuk menyembuhkan mata batin kita yang telah dibutakan oleh bumi di luar kita. Ia untuk menyembuhkan mata kita, supaya kita, yang dahulu adalah kegelapan, kini menjadi terang di dalam Tuhan. Semoga terang tidak lagi bercahaya ke dalam kegelapan, hadir bagi mereka yang tidak hadir, tetapi tampak jelas bagi mereka yang melihat dengan jelas.

Untuk itulah pengantin laki-laki melangkah ke luar dan kamar pengantin-Nya. Seperti raksasa Ia bangkit girang untuk melakukan perjalanannya. Berseri-seri seperti pengantin, sekuat raksasa, ramah sekaligus mengerikan, sungguh-sungguh sekaligus manis, lembut terhadap orang yang baik, garang terhadap yang jahat. Meskipun Ia tinggal di pangkuan Bapa, Ia mengisi kandungan ibu-Nya. Di kamar pengantin, yaitu kandungan ibu yang perawan, kodrat ilahi bergabung dengan kodrat manusiawi. Di situlah Firman menjelma menjadi daging bagi kita supaya, setelah keluar dari ibu, Ia tinggal di antara kita dan supaya, dengan mendahului kita ke rumah Bapa, Ia menyediakan tempat tinggal bagi kita. Maka, marilah kita bergembira dan merayakan hari ini dengan khidmat. Dan, marilah kita dalam iman mendambakan hari yang abadi, oleh Dia yang abadi tetapi telah lahir bagi kita di dalam waktu.

Santo Antonius

Santo Antonius Abas

Hidup dari tahun 250 dan meninggal tahun 356. Antonius seorang pemuda dari Mesir. Antonius seorang pemuda yang kaya raya, karena mendapatkan harta dari orang tuanya, yang meninggal pada saat Antonius berumur 20 tahun. Antonius membagi semua hartanya kepada oran-orang Miskin. kemudian ia hidup lebih dekat dengan Tuhan dengan bertapa, berdoa dan bermatiraga. Antonius bermaksdu mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha menjalin hubungan mesra dengan Allah melaului doa-doa, meditasi dan bertapa. Semua ini menjadikan Antonius kepada suatu tingkat hidup spritualitas rohani yang tinggi dan menjadikan dia seorang pendoa yang handal. Banyak sekali orang-orang pada waktu itu mendatanginya dengan berbagai macam permasalahan hidupnya. Kepada orang-orang tersebut Antonius senantiasa memberikan nasehatinya, dimana salah satu nasehatnya dan mendapat peneguhan iman: „kamu mengetahui pandangan-pandangan Setan yang menyesatkan. Kamu mengetahui kekuatan dan kelemahan setan, menghadapi semua itu, Percayakanlah kepercayaanmu kepada Yesus Kristus. Percayalah bahwa akhirnya kamu akan menang atas segala kejahatan” „Saya tidak takut kepadamu; engkatu(godaan) tidak akan memisahkan daku dari cinta kasih Yesus Kristus” demikianlah karene kebenaran menjadi semboyan akan godaan dinyatakan. Antonius tidak hanya memusatkan perhatian kepada kontemplasi dan meditasi saja, akan tetapi juga pada pembelaan iman Katolik. Antonius juga tercatat dua kali pergi ke Alexandria untuk menghibur dan meneguhkan saudara-saudara seiman yang mendapat tantangan dari kaum Arian yang sesat.

Santo Augustinus – Sermo 191

Perawan Maria

Kristus, Anak Tunggal Allah, matahari kebenaran yang sejati, menyinari bumi kendati cahaya-Nya tidak meninggalkan langit. Di sana Ia tinggal untuk selama-lamanya, di sini Ia berialu dalam waktu. Di sana Ia sendiri adalah hari abadi, di sini Ia mengalami hari, sama seperti manusia. Di sana Ia hidup selama-lamanya dan jam-jam tidak benalu, di sini Ia mati di dalam waktu sekalipun Ia tidak berbuat dosa. Di sana Hidup tinggal tak surut-surut, di sini Ia membebaskan hidup kita dari nasib kematian. Di sana Ia mengobarkan para malaikat dengan api kemuliaan-Nya, di sini Ia mencabut maut dari kehidupan manusia. Di sana dinikmati-Nya terang yang tak terpadamkan oleh pendosa mana pun, di sini Ia lahir sebagai manusia yang memisahkan segala hal dari dosa. Di sana Ia Allah bersama-sama Allah di sini Ia Allah dan manusia. Di sana Ia terang dari terang di sini Ia terang yang menerangi setiap orang. Di sana Ia membentangkan langit dengan Firman-Nya di sini Ia menunjukkan jalan yang menuju surga. Di sana Ia mengajuk rahasia kelahiran-Nya bersama Bapa, di sini telah dibentuk-Nya anggota-anggota tubuh-Nya di kandungan ibu-Nya. Di sana Ia duduk di sebelah kanan Bapa, di sini Ia berbaring di dalam patungan. Di sana Ia memberi santapan kepada para malaikat, di bumi ini Ia menderita lapar seperti anak kecil. Di sana, bagi kuasa-kuasa yang sempuma Ia tetap menjadi roti yang tiada habisnya, di sini Ia tidak dapat hidup tanpa diberi susu, sama seperti semua bayi yang baru lahir. Di sana Ia berbuat baik, di sini Ia menanggung yang jahat. Di sana Ia tak pernah mati, di sini Ia bangkit sesudah mati dan memberi kehidupan abadi kepada manusia yang hams mati. Allah telah menjadi manusia agar manusia menjadi Allah. Tuhan telah mengambil rupa seorang hamba, agar manusia beraling kepada Tuhan. Penghuni dan Pendiri surga telah menghuni bumi, agar manusia pindah dari bumi ke surga.

1. Firman Bapa, yang telah menjadikan zaman-zaman, telah menjadi manusia dan demi kita menetapkan hari kelahiranNya dalam waktu. Dalam kejadian-Nya sebagai manusia diinginkan-Nya satu hari bagi diri-Nya, padahal satu hari pun tak akan berlalu tanpa perintah ilahi-Nya. Sementara Ia tinggal bersama Bapa-Nya, Ia mendahului segala zaman, dan Ia pada hari ini keluar dari ibu-Nya untuk memasuki peredaran tahun. Ia menjadi manusia, Ia yang menjadikan manusia. Maka, Dia yang mengendalikan bintang-bintang menyusu pada buah dada ibu-Nya; Dia yang adalah roti kelapamn dan Dia yang adalah mata air kehausan; Dia yang mempakan terang menjadi temaram; Dia yang adalah jalan letih karena perjalanan; Dia yang adalah kebenaran kena tuduhan dengan saksi-saksi palsu; Dia yang akan menjadi hakim atas orang hidup dan orang mati dihukum oleh searang hakim fana; Dia yang adalah keadilan dinyatakan bersalah oleh orang-orang yang tidak adil. Pengajar didera dengan cemeti; buah anggur dimahkotai dengan duri-duri; fundamen digantungkan pada salib; kekuatan menjadi lemah; kesembuhan terlukai; bahkan hidup mengalami kematian. Dengan menanggung alih-alih kita, kehinaan-kehinaan ini dan yang serupa, yang tidak layak Ia tanggung, kita Ia bebaskan, sekalipun kita tidak layak dibebaskan. Sebab Dia yang telah menanggung segala keburukan itu demi kita tidak patut menerima keburukan apa-apa, sedangkan kita, yang melalui Dia menerima segala kebaikan, tidak patut menerima kebaikan apa-apa. [Akan tetapi, kehinaan-Nya menjadi kemuliaan kita dan salib-Nya adalah kemenangan kita; palang salib-Nya menjadi tanda kejayaan kita dan kematian-Nya adalah kehidupan kita.] Karena itulah, Dia yang sebelum segala abad menjadi Anak Bapa, yang hari-hari-Nya tidak berawal, pada hari-hari zaman akhir sudi menjadi anak manusia. Dia yang lahir dari Bapa dan tidak dijadikan oleh Bapa, terjadi di dalam seorang ibu yang telah dijadikan oleh-Nya, supaya di sini, pada saat tertentu, Ia terbit dari seorang perempuan itu yang sama sekali tidak mungkin ada, kapan pun dan di mana pun, kecuali oleh Dia.

2. Maka genaplah apa yang dinubuatkan dalam Mazmur: „Kebenaran akan tumbuh dari bumi.” Maria, perawan sebelum mengandung dan perawan setelah bersalin. Mustahil bumi itu, yakni daging tempat kebenaran terbit, kehilangan kemurniannya. Sebab sesudah kebangkitan-Nya, ketika Ia disangka hantu, bukan tubuh, Ia berkata: „Rabalah Aku dan lihadah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Meskipun begitu, tubuh-Nya yang padat seperti halnya tubuh seorang pemuda dapat mendatangi para murid melalui pintu-pintu yang tidak terbuka. Sudah tentu Dia yang dapat masuk melewati pintu tertutup ketika dewasa, dapat juga meninggalkan tubuh ibu-Nya tanpa merusaknya ketika masih bayi.
Orang yang tidak beriman tidak mau mempercayai baik perbuatan yang pertama maupun yang kedua. Akan tetapi, karena ketidakpercayaan menolak kedua-duanya, iman malah bertambah siap mempercayai keduanya. Sesungguhnya, inilah hakikat ketidakpercayaan: menolak kehadiran tabiat ilahi dalam diri Kristus. Lagipula, jika iman membenarkan kelahiran Allah di dalam daging, maka tidak pula ada keraguan padanya bahwa Allah mampu melakukan keduanya. Maka tubuh seorang dewasa dapat memperlihatkan diri kepada orang di dalam rumah sekalipun pintu rumah tetap terkunci, dan anak mampu muncul sebagai pengantin dari kamar pengantin, yaitu kandungan anak dara, tanpa merusak keperawanan ibu-Nya.

3. Sebab di sana Anak Tunggal Allah sudi bersatu dengan tabiat manusia. Itu dilakukan-Nya supaya tubuh Gereja yang tak bernoda digabungkan-Nya dengan diri-Nya selaku kepala yang tak bernoda. Rasul Paulus menamakan Gereja „perawan”, tidak hanya mengingat kaum wanita di dalam Gereja yang juga masih bertubuh perawan, tetapi juga karena keinginannya supaya jiwa semua anggotanya murni. Katanya: „Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. [Tetapi kadang kala aku takut, kalau-kalau kamu disesatkan, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular yang licik itu. Jangan pikiranmu disesatkan dari kesederhanaan dan kesucian yang ada dalam diri Kristus.”] Jadi, Gereja mirip ibu Tuhannya, oleh karena Gereja itu pun adalah baik ibu rohani maupun perawan, kendati hal itu mustahil menurut badan. Kristus sama sekali tidak menghilangkan keperawanan ibu-Nya, dan menjadikan Gereja-Nya perawan dengan membebaskannya dari perbuatan cabul setan-setan.
Hai perawan-perawan suci, dari keperawanan Gereja yang utuh itulah asalmu. Telah kamu tolak pernikahan di bumi dan telah kamu pilih tetap menjadi perawan juga dalam tubuh. Bersenang hatilah dan rayakan pada hari ini dengan pesta bahwa seorang perawan telah bersalin. Sebab Kristus telah lahir dari seorang perempuan, meski Ia tidak ditaburkan dalam perempuan itu oleh seorang laki-laki. Dia, yang telah memberi kepadamu keperawanan supaya kamu sayangi, tidak menghilangkan dari ibu-Nya apa yang kamu sayangi. Dia yang menyembuhkan dalam dirimu apa yang telah kamu ambil dari Hawa, sudah tentu tidak bakal merusak apa yang kamu junjung tinggi dalam diri Maria.

4. Oleh karena itu, kamu harus menapak jejaknya. Ketika Maria hamil, ia tidak bersuami, dan ketika ia bersalin, ia tetap perawan. Berupayalah mirip dia sedapat-dapatnya, bukan dengan melahirkan anak, karena hal itu tidak mungkin bila kamu hendak tetap perawan. Hanya dialah yang mampu kedua-duanya, tetapi kamu telah memilih salah satu dari keduanya, karena kamu akan kehilangan keperawanan jika memilih kedua-duanya. Yang mampu kedua-duanya hanya dia yang telah melahirkan Yang Mahakuasa, berkat Dia. Sebab hanya Dialah, Anak Tunggal Allah, patut menjadi anak manusia dengan cara yang luar biasa ini.
Akan tetapi, kalau Kristus menjadi anak satu orang perawan saja, hal itu tidak menghiangkan arti-Nya bagimu. Sebab, Dia yang tidak dapat kamu lahirkan sebagai anak dari tubuhmu, telah kamu temukan sebagai pengantin di dalam hati. Hendaklah kebahagianmu kamu anggap tergantung pada pengantin seperti itu, yang juga menjadi penyelamatmu, sedemikian rupa hingga keperawananmu tidak perlu mengkhawatirkan perampok. Sebab Dia yang tidak menghilangkan keperawanan ibu-Nya sekalipun tubuhnya bersalin, lebih-lebih lagi memelihara keperawanan di dalam dirimu bila merangkulmu dengan rangkulan rohani. Dan jangan sampai kamu memandang dirimu mandul karena tetap perawan. Sebab, keutuhan daging yang penuh kebaktian itu menghasilkan kesuburan rohani. Berbuadah sesuai dengan perkataan Rasul Paulus: „Jangan kalian ributkan perkara duniawi, bagaimana menyenangkan suamimu. Ingat perkara Tuhan, bagaimana Ia dapat berkenan kepadamu dalam segala hal.” Hendaklah terpikir olehmu bahwa, kalau tidak mungkin kamu beranak banyak karena kesuburan kandunganmu, kamu dapat berbudi banyak karena kesuburan rohmu.
Akhirnya, kata-kataku tertuju kepada seluruh umat. Kukatakan kepada Saudara sekalian: „Saudara-saudara adalah perawan suci yang am, yang oleh Rasul Paulus telah dinyatakań merupakan tunangan Kristus.” Kusapa kamu dengan kata „perawan”. Apa yang kamu kagumi dalam tubuh Mana, olahlah itu dalam lubuk jiwamu. Barang siapa percaya dengan hati agar dibenarkan, ia menerima Kristus, dan barang siapa mengaku dengan mulut agar diselamatkan, ia mengandung Kristus. Dengan demikian rohmu dapat melahirkan hasil beriimpahlimpah dan tetap bertahan dalam keperawanan.

Santo Feliks dari Nola

Santo Feliks

Feliks lahir di Nola, Italia Selatan. Hari kelahirannya tidak diketahui dengan pasti. Ia mengabdikan seluruh hidupnya dalam karya cinta kasih kepada orang – orang miskin yang ada di kotanya.
Riwayat hidupnya diketahui dari sebuah syair yang ditulis oleh Santo Paulinus, satu abad setelah kematian Feliks. Menurut Santo Paulinus, setelah kematian ayahnya, Feliks membagi – bagikan harta warisan ayahnya kepada orang – orang miskin, kemudian ia menjadi seorang imam. Karyanya sebagai seorang imam dimulainya bersama Santo Maximus, Uskup Nola. Ketika Uskup Nola ditangkap dan dianiaya oleh Kaisar Decius (249-251), Feliks tetap melayani umatnya. Namun kemudian ia juga ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi ia sempat meloloskan diri dari penjara.
Feliks tetap menyembunyikan diri sampai kematian kaisar Decius pada tahun 251. Ketika ia muncul kembali di depan umum, ia dikejar – kejar oleh orang – orang kafir di Nola. Dengan suatu campur tangan ajaib, ia sanggup menghindarkan diri dari para pengejarnya hingga masa penganiyaan berakhir.
Ketika Santo Maximus meninggal, Feliks terpilih menjadi penggantinya. Tetapi Feliks menolak penghormatan ini, sebagaimana dia juga tidak mau menerima kembali warisannya yang disita pada masa penganiyaan. Ia bahkan mengusahakan tiga bidang tanah sebagai petani, memberikan segala miliknya kepada para miskin diluar kebutuhan-kebutuhannya yang paling kecil. Santo Paulinus dan Santo Agustinus menceritakan sejumlah mukzijat dari Feliks yang terjadi di kediamannya di luar kota Nola.
Ia meninggal dunia kira – kira pada tahun 260 dan dihormati sebagai martir karena penderitaannya bagi Kristus dan demi keluhuran iman Kristen.

Santo Hilarius

Hilarius lahir di Gallia Selatan (sekarang: Perancis). Semenjak kecil, ia dididik dalam tata carea kekafiran yang tidak mengenal adat istiadat Kristen. Pada usis setengah baya, ia bertobat dan masuk ke pangkuan Gereja kudus bersama anak-isterinya, berkat kebiasaannya membaca buku-buku rohani dan Kitab Suci. Hilarius, seorang yang saleh, pandai dan bijaksana. Karena bakatnya ini, ia ditabhiskan menjadi imam, selanjutnya diangkat sebagai Uskup kota asalnya, Poiters. Pada masa kepemimpinannya, bidaah Arianisme semakin menghebat. Tugas para Uskup Ortodoks menjadi semakin berat. Meskipun demikian, Uskup Hilarius tetap menjadi pembela iman yang benar. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dihadapkan kepada Kaisar Konstansius. Ia dibuang ke Phrygia. Selama tiga tahun, ia hidup dipengasingan. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk menulis bukunya yang termasyur mengenai Tritunggal MahaKudus. Walaupun dibuang, namun ia tidak pernah membiarkan para Arian merajalela dengan ajarannya yang sesat itu. Sehabis masa pembuangannya itu, ia tidak diijinkan pulang ke tanah airnya di Galelia Selatan. Di tempat asalnya ini, Hilarius tetap mencurahkan tenaganya bagi tegaknya ajaran iman yang benar dan kemurnian Iman Kristen, sempai ia wafat pada tahun 368. Hilarius dihormati Gereja sebagai Pujangga Gereja.

Santo Augustinus – Sermo 189

Hari Natal (Lukas 2:1-7)

1. Hari yang telah menjadikan setiap hari, telah menguduskan hari ini bagi kita. Mengenai hari itu dinyanyikan dalam mazmur: „Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah Hari dari hari, yakni keselamatanNya.” Siapa lagi gerangan „Hari dari hari” itu kalau bukan Anak dari Bapa, terang dari terang? Namun, had yang lain itu, yang telah memperanakkan hari yang pada hari ini lahir dari anak dara, hari yang lain itu tidak mengenal terbit ataupun terbenam. Allah Bapa kunamakan „Hari”. Sebab, sekiranya juga Bapa bukan hari, Yesus pun bukan hari dari hari itu.

Apakah hari kalau bukan terang? Bukannya terang mata jasmani, bukannya terang yang sama bagi manusia dan hewan, melainkan terang yang bersinar bagi malaikat, terang yang memurnikan hati apabila kita memandangnya. Sebab, berlalulah malam yang menjadi alam kita, yang diterangi Kitab-kitab yang dinyalakan bagi kita bagaikan pelita, dan bakal datanglah yang dinyanyikan dalam mazmur lain: „Waktu pagi aku akan bersama-Mu dan akan memandang-Mu”.

2. Maka hari itu, Sabda Allah, hari yang bersinar bagi malaikat dan yang bercahaya di tanah air – jauhlah kita dari tanah air itu, kita yang berada di negeri orang – hari itu telah berselimutkan daging dan lahir dari anak dara Maria. Dengan cara yang ajaib Ia lahir! Apakah yang lebih ajaib daripada kelahiran dari perawan? Dia hamil, namun dia perawan. Dia melahirkan, namun dia perawan. Jadi, dari perempuan yang diciptakanNya, Ia tercipta. Kepadanya Ia berikan kesuburan sedangkan keperawanannya dibiarkan-Nya tetap utuh.

Dari mana asal Maria? Dari Adam. Dari mana asal Adam? Dari tanah.4 Jika Adam bemsal dari tanah dan Maria dari Adam, maka Maria pun berasal dari tanah. Dan jika Maria berasal dari tanah, maka kita dapat memahami kata-kata yang kita nyanyikan: „Maka kebenaran tumbuh dari bumi”. Dengan demikian, kebaikan apakah yang diberikan bumi kepada kita? „Kebenaran tumbuh dari bumi dan keadilan menjenguk dari langit”. Sebab orang Yahudi, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus: „… oleh karena tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, tidak mau takluk pada kebenaran Allah”.

Dari mana manusia dapat menjadi benar? Dari dirinya sendiri? Orang miskin yang mana memberi roti kepada dirinya sendiri? Orang telanjang yang mana dapat menutupi diri kalau tidak menerima pakaian? Dahulu kita tidak mempunyai kebenaran; di sini yang ada hanyalah dosa. Dari mana kebenaran? Apakah kebenaran tanpa iman? „Orang benar akan hidup oleh iman”. Barang siapa menamakan diri benar tanpa beriman, ia berdusta. Yang tidak beriman, terpaksa berdusta, bukan? Yang hendak berbicara benar, harus berpaling pada kebenaran. Akan tetapi, kebenaran jauh adanya. „Kebenaran tumbuh dari bumi.” Ketika Saudara-saudara sedang tidur, ia mendekati Saudara. Ketika Saudara tidur nyenyak, ia membangunkan Saudara. Kebenaran telah membuat dirinya Jalan supaya tak kehilangan Saudara. Oleh karena kebenaran tumbuh dari bumi, maka Tuhan kita Yesus Kristus lahir dari anak dara. Keadilan menjenguk dari langit supaya manusia memiliki keadilan yang bukan keadilannya sendiri, melainkan keadilan Allah.

3. Betapa besar keridaan itu dan betapa besar kehinaan yang mendahuluinya! Kehinaan apa yang mendahuluinya? Kita fana, kita tertekan oleh dosa, kita menanggung beban hukuman kita. Setiap manusia, mulai saat kelahirannya, menyandang sengsara. Tidak perlu kita memiliki kamnia nubuat agar mengetahuinya. Tengok saja dia pada saat kelahirannya dan lihat dia menangis. Jikalau Allah di bumi itu mengalami kehinaan yang amat sangat, maka timbullah pertanyaan: keridaan apa yang telah terjadi dengan tidak terduga-duga? Kebenaran akan tumbuh dari bumi, Kebenaran itu telah menciptakan segala-galanya dan diciptakan di tengah-tengah segalanya. Ia menjadikan had dan masuk ke dalam hari. Ia sudah ada sebelum segala zaman dan meniti zaman-zaman. Tuhan Kristus, tanpa awal bersama Tuhan untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, Saudara harus mencari arti hari yang sekarang ini. Hari ini hari kelahiran. Kelahiran siapa? Kelahiran Tuhan. Jadi, Ia mempunyai hari kelahiran? Benar. Apakah Dia yang pada mulanya adalah Firman, yang adalah Allah, dan yang bersama-sama dengan Allah, mempunyai hari kelahiran? Benar! Seandainya Ia tidak mengalami kelahiran dengan cara manusiawi, maka tidak mungkinlah kita sampai mengalami kelahiran kembali dengan cara ilahi. Ia telah lahir agar kita dilahirkan kembali. Kristus telah lahir, jangan ada orang yang meragukan kelahiran kembali bagi dirinya sendiri. Ia telah lahir dan tidak perlu dilahirkan kembali. Bukankah dilahirkan kembali itu hanya perlu bagi dia yang kelahirannya terkutuk? Maka, biarkan rahmat Kristus terwujud di dalam hati kita. Ibu-Nya mengandung Dia dalam pangkuannya, marilah kita mengandung-Nya di dalam hati kita. Anak dara dibuahi oleh penjelmaan Kristus menjadi daging, biarkan batin kita dibuahi oleh kepercayaan kepada Kristus. Anak dara telah menghasilkan Sang Penyelamat, kita harus menghasilkan pujian. Janganlah kita mandul, hendaklah jiwa kita mekar untuk Allah.

4. Kelahiran Kristus dari Bapa tanpa ibu, kelahiran Kristus dari seorang ibu tanpa bapak, kedua kelahiran itu ajaib. Yang pertama abadi, yang kedua dalam waktu. Kapan Ia lahir dari Bapa? Apa artinya: „kapan”? Apakah Saudara mencari kapan di sana, sedangkan di sana Saudara tidak bakal menemukan waktu? Janganlah Saudara mencari kapan di sana. Carilah „kapan” itu di sini. Jika Saudara mencari kapan kelahiranNya dari seorang ibu, Saudara berbuat baik. Sebaliknya, jika Saudara mencari kapan kelahiran-Nya dari Bapa, Saudara tidak berbuat baik. Ia telah lahir, namun tidak mengenal waktu. Ia lahir sebagai Yang Abadi dari Yang Abadi, Ia sama-sama abadi. Apa yang membuat Saudara heran? Ia adalah Allah. Amatilah keilahian-Nya, lalu penyebab rasa heran Saudara akan luruh. Meskipun begitu, Saudara heran bila kami berkata: „Ia lahir dari seorang perawan,” suatu peristiwa yang mengesankan. Ia adalah Allah, janganlah Saudara heran, hendaklah rasa heran Saudara berlalu dan diganti puji-pujian. Biarlah iman menjadi sokongan; percayalah bahwa terjadinya memang demikian. Jika Saudara tidak percaya, hal itu tetap terjadi, tetapi Saudara tetap orang yang tidak beriman.

Ia telah sudi menjadi manusia, apa lagi yang Saudara inginkan? Apakah Allah bagi Saudara belum cukup direndahkan? Ia, yang tadinya Allah, telah menjadi manusia. Tempat Ia ditampung, menyesakkan: dibungkus dalam lampin, Ia dibaringkan di dalam patungan. Saudara mendengarnya tadi waktu Injil dibacakan. Siapa tidak akan tercengang mendengarnya? Yang mengisi dunia, tidak mendapat tempat di rumah penginapan. Yang dibaringkan di dalam patungan, telah menjadi santapan kita. Hendaklah kedua hewan mendekati palungan, kedua bangsa, sebab „lembu mengenal pemiliknya”, „keledai mengenal patungan yang disediakan tuannya”. Pergilah ke patungan, dan jangan malu menjadi hewan beban untuk Tuhan. Saudara akan memikul Kristus, Saudara tidak akan sesat di jalan. Jalan itu mengendarai Saudara. Masih ingatkah Saudara keledai yang dibawa kepada Tuhan? Kitalah keledai itu, tak seorang pun perlu malu karenanya. Biarlah Tuhan mengendarai kita dan memanggil kita ke mana pun menurut kehendak-Nya. Kita hewan beban-Nya. Kita sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Selama Dia yang mengendarai kita, kita tidak merasa dibebani, tetapi diringankan. Selama Dia yang menjadi pandu, kita tidak sesat; kita berjalan menuju Dia, oleh Dia; di jalan itu kita tidak akan binasa.

Santo Aleksander

Santo Aleksander

Aleksander I adalah Paus kelima dan seorang martir abad kedua. Sebagai Paus, ALeksander I juga adalah Uskup Roma dari tahun 105-115. Menurut Buku KePausan (Liber Pontificalis), Aleksander I adalah warga kota Roma yang lahir dan mati pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus.
Ia menaruh perhatian besar pada Liturgi Gereja. Beberapa sumber mengatakan bahwa kata – kata Liturgi Ekaristi „Qui pride quam pateretur” („Yang sehari sebelum Ia menderita”) adalah kata – kata tambahan dari Aleksander I. Kata – kata ini membuka bagian dari perayaan Ekaristi, yang menceritakan perbuatan dan kata – kata Yesus sewaktu Ia mengadakan Ekaristi Kudus pada perjamuan terakhir. Beliau juga memerintahkan agar anggur yang dipakai dalam perayaan Ekaristi dicampur sedikit dengan air sebagai lambang darah dan air yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam tombak di atas Salib. Iapun menyesahkan praktek pemberkatan rumah dengan air suci.
Bersama dengan dua orang imam, yaitu Evenius dan Teodulus, Aleksander I dipenggal kepalanya pada tahun 115.

Gregorius dari Nazianze

Keluarga Gregorius adalah keluarga yang saleh dan diberkati Tuhan. Ibunya beserta kedua adiknya, Gorgonia dan Caesarius juga diakui oleh Gereja sebagai orang kudus.

Gregorius menjalani pendidikannya di Nazianze; kemudian berturut- turut ia belajar di Kaesarea-Kapadokia, Kaesarea-Palestina, Aleksandria dan akhirnya di Athena. Di Athena, ia bertemu dengan Basilius, teman kelasnya. Keduanya bersahabat. Bersama Basilius, Gregorius mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di Pontus. Namun, kemudian karena desakan ayahnya, Gregorius kembali ke daerah asalnya. Di sana ia kembali ke daerah asalnya. Di sana ia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian ditahbiskan menjadi uskup. Ketika berusia 50 tahun, Gregorius diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Di Konstantinopel ia menyaksikan keadaan hidup iman umat yang menyedihkan karena terpengaruh ajaran sesat Arianisme yang sudah menyebar luas. Tempat ibadat pun tidak ada.
Gregorius memulai karyanya sebagai Uskup Agung Konstantinopel dengan membangun sebuah gereja darurat. Gereja ini disebutnya ‚anastasis’ yang berarti ‚kebangkitan’. Ia menghadapi dengan tenang dan sabar kaum Arian yang menentangnya. Kepada umat, ia selalu berkala, „Kita harus menghadapi mereka (kaum Arian) dengan budi bahasa yang manis dan kesabaran yang tinggi agar bisa mengalahkan mereka.”

Ia banyak menulis dan mengajar di kota-kota yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, untuk membela ajaran iman yang benar. Pertentangan dengan kaum Arian terus meruncing, terlebih ketika semakin banyak umat kembali kepada ajaran iman yang benar karena pengaruh Gregorius. Kaum Arian berusaha membunuh dia dengan menyuruh seorang pemuda. Namun, usaha ini gagal. Pemuda tanggung ini seketika gagal. Pemuda tanggung ini seketika berubah tatkala berdiri di hadapan Gregorius yang saleh itu. Ia berlutut di depan Gregorius dan mengakui niat jahatnya.
Gregorius lebih suka hidup menyendiri dalam kesunyian pertapaan daripada hidup di tengah keramaian kota dengan segala masalahnya. Oleh karena itu, tidak berapa lama setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Nazianze untuk menggantikan ayahnya. Di sana ia mengajar dan banyak menulis buku pengajaran iman dan pembelaan agama. Semua tulisannya itu merupakan warisan berharga bagi Gereja. Dari tulisan-tulisannya, kita mengetahui bahwa Gregorius adalah seorang teolog dan filsuf yang arif.
Gregorius meninggal dunia pada tahun 390. Oleh Gereja, beliau digelari ‚kudus’ dan dihormati sebagai Pujangga Gereja

Basilius Agung

Basilius lahir pada tahun 329 di Kaesarea, ibu kota Provinsi Kapadokia di Asia Kecil. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kedua orangtuanya, yaitu Basilius Tua dan Emmelia beserta neneknya Makrina Tua diakui dan dihormati pula oleh Gereja sebagai orang kudus. Demikian pula Makrina dan kedua adiknya, Gregorius dari Nyssa dan Petrus dari Sebaste.
Basilius dididik oleh ayah dan neneknya, Makrina Tua. Pendidikan ini menumbuhkan iman yang kokoh dan murni dalam dirinya. Basilius kemudian melanjutkan pendidikannya di Konstatinopel dan Athena. Di Athena, ia menjalin persahabatan dengan
Gregorius dari Nazianze, teman kelasnya.
Setelah menamatkan pendidikannya dengan cemerlang, ia kembali ke Kaesarea dan menjadi pengajar retorika (ilmu pidato). Dalam waktu singkat, namanya sudah dikenal luas. Ia bangga atas prestasi dan kemasyhuran namanya dan senang mendengar pujian orang.
Oleh karena itu, lama kelamaan ia menjadi sombong dan cenderung mencari kehormatan duniawi. Namun, atas pengaruh kakaknya, Makrina Muda dan kedua adiknya, ia mulai tertarik pada corak hidup membiara. Ia lalu berhenti mengajar dan berangkat ke Mesir, Palestina, Syiria, dan Mesopotamia untuk mempelajari corak hidup membiara. Sekembalinya dari perjalanan itu, ia bersama adiknya, Petrus Sebaste membangun sebuah biara pertapaan di Pontus. Di tempat itu, ia bertapa dan menjalani suatu kehidupan yang keras bersama beberapa orang rekannya. Aturan hidup membiara di Pontus mengikuti contoh Santo Pakomius dari Mesir. Kehidupan membiara yang dibangunnya merupakan bentuk kehidupan membiara yang pertama di Asia Kecil. Oleh karena itu, Basilius digelari sebagai Bapa Perintis hidup membiara di Gereja Timur. Di Gereja Barat, pengaruh Basilius disebarkan melalui Santo Benediktus, pendiri Ordo Benediktin dan Abbas Biara Monte Kasino.
Pada tahun 370, Basilius diangkat menjadi uskup di Kaesarea, menggantikan Uskup Eusebius. Ia dikenal sebagai seorang uskup yang berwatak tegas dan bersemangat. Kepandaian, kesucian, dan kerendahan hatinya menjadikan dia seorang tokoh panutan bagi umatnya dan uskup-uskup yang lain.
Selain giat membela kebenaran ajaran iman Kristiani terhadap serangan kaum Arian, Basilius juga memperhatikan kepentingan umatnya, terutama mereka yang miskin dan melarat. Karya sosial yang dirintisnya amat luas dan modem. Ia mengecam habis-habisan kaum kaya yang tidak mempedulikan se sama yang miskin dan melarat. Ia membangun sebuah rumah sakit (namanya Basiliad) untuk menampung orang-orang sakit yang miskin. Untuk membela dan mempertahankan kebenaran ajaran iman Kristiani terhadap Arianisme, Basilius menerbitkan banyak tulisan teologis. Kecuali itu, ia juga menerbitkan buku-buku liturgi dengan berbagai pembaruan. Dari antara ribuan surat yang ditulisnya, masih tersimpan 300 lembar surat hingga kini. Dari surat-surat itu kita dapat mengetahui kepribadian Basilius sebagai seorang yang mahir, pandai, dan beriman. Meskipun badanya amat kurus karena hidup tapa yang keras dan penyakit, semangat pelayannya tidak pernah pudar. Ia pun tetap ramah dan rendah hati kepada semua umatnya. Basilius meninggal dunia pada 1 Januari 379. Ia digelari ‚kudus’ dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.

Santo Albertus

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orangtuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya. Pengalamannya ini nantinya akan menjadi bahan tulisannya yang berhubungan dengan Ilmu Alam dan Ilmu Tumbuh-tumbuhan. Pendidikan tinggi ditempuhnya di Universitas Padua, dan dari sini ia melangkah masuk ke dalam hidup membiara dalam Ordo Dominikan. Yordan dari Saxoni, Jenderal kedua Ordo Dominikan menganggap Albertus sebagai tokoh yang cocok untuk cita-citanya yaitu mengkombimasikan hidup rohani, pewartaan dan mengajar. Oleh karena itu, ia kemudian mengirim Albertus ke Koln, Jerman untuk mengajar rekan-rekannya di semua biara Dominikan di kota itu. Ia mengajar di sana selama hampir 10 tahun. Karena kesalehan hidupnya dan pengetahuannya yang luar biasa luas dan mendalam itu, ia semakin terkenal. Oleh rekan-rekannya dan orang-orang sezamannya, Albertus disebut sebagai ‚Yang Agung, Tiang Gereja, Doktor Umum atau Sarjana Umum’. Albertus kemudian diangkat sebagai mahaguru di Universitas Koln. Murid-muridnya yang terkenal antara lain Thomas Aquinas, yang kemudian dinyatakan juga sebagai ‚kudus’ dan dihormati sebagai seorang Sarjana Gereja, seperti gurunya. Selanjutnya ia mengajar sebagai mahaguru di Universitas Paris, di mana ia bertemu dan menjalin persahabatan dengan raja Ludovikus yang saleh itu. Di sini ia menulis banyak buku yang membuatnya semakin terkenal di seluruh Eropa. Pada tahun 1256 ia menjabat sebagai administrator di Curia Roma. Ia berhasil membela masalah-masalah menyangkut aturan-aturan hidup membiara dari Santo Dominikus dan Fransiskus terhadap serangan William. Karena hasil pembelaannya sangat brilian, maka Paus Aleksander IV (1254-1261) mengangkatnya menjadi uskup di kota Regensburg. Tetapi pada tahun 1262 setelah menyelesaikan masalah-masalah penting di dalam keuskupannya, ia mengajukan permohonan pengunduran diri. Lalu ia pulang ke Koln untuk menjalani saat-saat terakhir hidupnya. Di sana pun ia melanjutkan tulisan-tulisannya dalam beberapa tema, sambil menjadi uskup pembantu dan mahaguru. Albertus kemudian mengadakan perjalanan pastoral ke seluruh Jerman dan Bohemia, lalu pergi ke Timur Tengah dan Tanah Suci, dan pada tahun 1247, ia mengikuti Konsili Lyons. Albertus dikenal rendah hati dan suci hidupnya. Ia menaruh devosi yang besar kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus dan kepada Bunda Maria. Semua itu tampak jelas di dalam syair-syair dan lagu-lagu yang digubahnya dan di dalam 50 buah buku yang ditulisnya. Ketika mengikuti Konsili Lyons itu, ia tidak lupa mengenang muridnya Santo Thomas Aquinas. Ia. merasa sangat kehilangan dengan wafatnya Thomas. Setelah ia mengadakan pembelaan terakhir terhadap ajaran Thomas Aquinas, ia meninggal dunia pada tanggal 15 Nopember 1280, dalam usia 87 tahun. Kesucian hidupnya didukung dengan banyak mujizat.